Situasi yang kita hadapi dalam kehidupan sekarang ini ataupun situasi yang dialami oleh orang-orang terdahulu adalah mata rantai dari ujian-ujian yang diberikan oleh Allah SWT untuk menakar kesungguhan dan keimanan kita. Adalah sunatullah bahwa akan ada terus rekayasa untuk mengkerdilkan kita, masyarakat, organisasi, ataupun kelompok-kelompok yang sungguh-sungguh memperjuangkan keimanan dan keislaman dalam hidupnya. Namun yang penting adalah bagaimana kemampuan kita untuk membuktikan dengan amal kerja nyata. Bukankah, sejarah kenabian telah mengajarkan secara komplit dan manusiawi.
Kita sebagai muslim diperintahkan oleh Allah SWT jika menghadapi sesuatu yang sulit, yang menghimpit, cepat kembali kepada Allah (fafirruu ilallah..). Kemudian selesaikan dengan mentadabburi konsep Allah. “Afala yatadabbarunal Qur’an am ‘ala quluubin aqfaluha.”
Dari tadabur ayat-ayat Allah ini, maka dalam menghadapi berbagai masalah, ancaman dan makar, maka kita harus memiliki bekalan-bekalan yakni:
1. Atsbatu mauqifan (menjadi orang yang paling teguh pendirian/paling kokoh sikapnya)
At-Tsabat (keteguhan) adalah tsamratus shabr (buah dari kesabaran). “Famaa wahanuu lima ashobahum fii sabiilillahi waaa dhoufu wamastakanuu…”, artinya ; “…mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar…” (3:146)
Keteguhan itu membuat kita tenang, rasional, obyektif dan mendatangkan kepercayaan Allah untuk memberikan kemenangan kepada kita. Keteguhan sikap kadang-kadang menimbulkan kekerasan oleh karenanya perlu diimbangi dengan yang kedua.
2. Arhabu shadran (paling berlapang dada)
Artinya bukan paling banyak mengelus dada. Silakan bicara tetapi silakan buktikan. Jika tidak ada lapang dada dalam hidup kita, niscaya yang akan timbul ke-kaku-an.
3. A’maqu fikran (pemikiran yang mendalam)
Mendalami apa yang terjadi. Jangan terlarut pada fenomena, tetapi lihatlah ada apa di balik fenomena tersebut. Ketika kita merespon pun akan objektif. Respon-respon kita objektif, terukur, mutawazin (seimbang). Pemikiran yang mendalam kadang-kadang membuat kita terjebak pada hal yang sektoral, maka harus segera diimbangi pula dengan yang bekal keempat:
4. Ausa’u nazharan (pandangan yang luas)
Temuan sektoral perlu dicari. Namun, solusi dan dampak secara komprehensif perlu diperhatikan, sehingga menutup peluang terjadinya masalah atau isu baru.
5. Ansyathu ‘amalan (paling giat dalam bekerja)
Sambil merespon sesuai dengan kebutuhan tetap kita harus giat bekerja. Ketika dalam organisasi atau kelompok, aturlah orang-orang tertentu saja yang menangani, selebihnya harus terus bergerak dalam kerangka amal jama’i. Energi kita harus prioritas untuk mewujudkan visi dan cita-cita. Bekerja untuk lokal untuk memberikan kontribusi secara makro untuk kehidupan umat manusia yang lebih baik. Fokuskan semua bekerja.
6. Ashlabu tanzhiman (paling kokoh strukturnya)
Jika kita adalah organisasi atau kumpulan manusia, ada kekurangan, ada kesalahan. Kita harus rajin membersihkannya. Seorang muslim ibarat orang yang tinggal di pinggir sungai dan mandi lima kali sehari. Jika sudah begitu, pertanyaannya: “Masih adakah kotoran-kotoran pada diri kita ?” Allah berfirman “wa qul jaa-al haq wa zahaqal bathil”. Secara fitrah jika al Haq muncul, maka kebatilan akan lenyap, oleh karena itu teruslah hadirkan al Haq dan mobilisir potensi kebaikan. Jika kita lengah men-zhahir-kan al-haq maka kebatilan yang tadinya marjinal akan tampil dan al-haq terbengkalai. Hidup berjamaah adalah untuk memobilisir potensi-potensi kebaikan.
7. Aktsaru naf’an (paling banyak manfaatnya)
Pesan Nabi ; “Khoirunnas anfa’uhum linnas”. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Buktikan bahwa kita secara pribadi atau organisasi ini banyak manfaatnya sehingga berhak mendatangkan pertolongan Allah dan pertolongan kaum Mukminin.
Jika tujuh hal itu dilakukan untuk menghadapi isu, insya Allah kesungguhan kita untuk berlaku dan beraktifitas dalam hidup kita ini akan semakin kokoh dan semakin diterima untuk menghadirkan kebajikan-kebajikan yang diharapkan oleh teman, keluarga, ataupun seluruh bangsa.


